Penyakit Jantung Koroner


Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau terasa tidak nyaman didada atau dada terasa tertekan berat ketika sedang kerja berat ataupun berjalan terburu-buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh.
Berdasarkan (WHO) 2013, PJK adalah penyebab tunggal terbesar kematian di negara maju dan di negara berkembang. Menurut statistik dunia ada 9,4 juta kematian setiap tahun yang disebkan oleh penyakit kardiovaskular dan 45% kematian tersebut disebabkan oleh penyakit jantung koroner (Kundasamy, 2014). Data statistik dunia melaporkan tentang insiden terbesar dan prevalensi PJK di dunia ternyata semakin meningkat dengan usia harapan hidup berkisar 3 sampai 9% (Shivaramakrishna, 2010). Berdasar kasus kematian ini, 7,6 juta diantaranya terkena serangan jantung dan 5,7 juta diantaranya stroke (Cristoper, 2010).
Diperkirakan prevalensi PJK adalah sekitar 3-4% di daerah pedesaan dan 8-11% di daerah perkotaan dan diantaranya adalah usia di atas 20 tahun, mewakili dua kali lipat di daerah pedesaan dan enam kali lipat di daerah perkotaan selama empat dekade terakhir. Pada tahun 2003 di India mencapai 29,8 juta orang diperkirakan menderita PJK, 14,1 juta diantaranya adalah di daerah perkotaan dan 15,7 juta di daerah pedesaan (Shivaramakrishna, 2010). Total kematian global yang diakibatkan penyakit kardiovaskular mencapai 16,7 juta dan 2 juta kematian diantaranya disebabkan oleh PJK (Mackay & Mensah, 2004). Kasus PJK juga merupakan pembunuh nomor satu di Amerika Serikat (AS) dan seluruh dunia, sekitar 38% orang yang mengalami kejadian koroner akut akan meninggal pada tahun yang sama. Prevalensi PJK terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia (Tierney, 2008). PJK menyumbang lebih dari 450.000 kematian di AS pada tahun 2004. Dari hasil penelitian, kejadian PJK terbanyak pada usia 35-74 tahun (Koenig et al,2011). 
Riset kesehatan dasar Indonesia tahun 2007, menunjukkan penyakit jantung merupakan penyebab kematian terbesar ke 9 dan ke 11 dengan 5,1% dari semua kematian yang diakibatkan penyakit jantung iskemia (penyumbatan parsial aliran darah ke jantung) dan 4,6% disebabkan penyakit jantung. Angka kejadian PJK di Indonesia sebanyak 7,2%. Penyakit kardiovaskular saat ini merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian di negara maju dan berkembang yang akan menggantikan kematian akibat infeksi.
Di Jawa Tengah, pada tahun 2011 jumlah kasus Penyakit Jantung Koroner mengalami  kenaikan menjadi 35.707 kasus dan Kota Semarang masih menempati urutan pertama yaitu sebanyak 20.336 kasus (Dinkes Propinsi Jateng, 2012). Berikut adalah rincian jumlah kasus penyakit jantung koroner di kota Semarang pada tahun 2005, jumlah kasus 3.290 kasus (28 kasus kematian), tahun 2006 ada 6.548 kasus (98 kasus kematian), tahun 2007 terdapat 6.432 kasus (116 kasus kematian), tahun 2008 ada 6.685 kasus (94 orang meninggal), tahun 2009 terdapat 7.632 kasus (89 kasus kematian), tahun 2010 terdapat 6.194 kasus (108 kasus kematian), jumlah kasus pada tahun 2011 terdapat 20.336 kasus, jumlah kasus pada tahun 2012 terdapat 8.178 kasus. RSUD Kota Semarang merupakan rumah sakit pemerintah dengan jumlah PJK terbanyak kedua setelah RSUP Dr. Kariadi pada tahun 2013 dengan jumlah pasien PJK sebanyak 695 pasien dengan lingkup pasien meliputi kota Semarang dan kabupaten Demak.
Penyakit Jantung Koroner (PJK) menggambarkan suatu penyakit yang berat, dengan mortalitas tinggi serta merupakan suatu keadaan gawat darurat jantung dengan manifestasi klinis berupa keluhan  perasaan tidak enak atau nyeri dada yang disertai dengan gejala lain sebagai akibat  iskemia miokard (Departemen Kesehatan RI,2007). Penyebab penyakit jatung koroner diantaranya adalah faktor usia dan jenis kelamin, dengan angka kejadian pada laki laki jauh lebih banyak dibanding pada perempuan akan tetapi kejadian pada perempuan akan meningkat setelah menopause sekitar usia 50 tahun. Hal ini disebabkan karena hormon estrogen memiliki efek proteksi terhadap terjadinya arterosklerosis, dimana pada orang yang berumur > 65 tahun ditemukan 20 % PJK pada laki-laki dan 12 % pada wanita.

Bertambahnya usia akan menyebabkan meningkat pula penderita PJK, karena pembuluh darah mengalami perubahan progresif dan berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Perubahan yang paling dini dimulai pada usia 20 tahun pada pembuluh arteri koroner. Arteri lain mulai bermodifikasi hanya setelah usia 40 tahun, terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat dengan bertambahnya umur. Hasil penelitian didapatkan hubungan antara umur dan kadar kolesterol yaitu kadar kolesterol total akan meningkat dengan bertambahnya umur (Supriyono, 2008).

DAFTAR PUSTAKA
Rahim, Ahmad Taufik;dkk. 2016. Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di Instalasi Cvbc  Rsup Prof Dr. R.D. Kandou Manado. e-journal Keperawatan (e-Kp) Vol.4, No.2:1-2
Susilo, Cipto. 2015. Identifikasi Faktor Usia, Jenis Kelamin Dengan Luas Infark Miokard Pada Penyakit Jantung Koroner (Pjk) Di Ruang Iccu Rsd Dr. Soebandi Jember. The Indonesian Journal Of Health Science, Vol. 6 , No. 1:1-3
Farahdika, Amalia;dkk. 2015. Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Penyakit  Jantung Koroner Pada Usia Dewasa Madya (41-60 Tahun) (Studi Kasus Di Rs Umum Daerah Kota Semarang). Unnes Journal of Public Health 4 (2): 118

Komentar